Sudah bertahun-tahun mereka ingin menghancurkan saya»: serangan terhadap Chairul Tanjung, pendiri CT Corp

Iklan Semua Halaman

Sudah bertahun-tahun mereka ingin menghancurkan saya»: serangan terhadap Chairul Tanjung, pendiri CT Corp


Mobil ditembak di depan megastore Transmart baru di Jakarta. Sehari kemudian, Tanjung memberikan pernyataan yang hari ini menjadi perbincangan seluruh negeri.

Shofiyah Afni - detikNews
Minggu, 12 Sep 2026 16:44 WIB
 

Mobil lapis baja milik Chairul Tanjung yang ditembak di Jakarta. Di sebelah kanan, foto Chairul Tanjung dan Purbaya Yudhi Sadewa.

Kemarin malam, sekitar pukul 20.10, usai peresmian megastore Transmart baru di Jl. HR Rasuna Said, Jakarta, terjadi sebuah aksi penembakan. Mobil SUV lapis baja yang ditumpangi Chairul Tanjung ditembaki dengan senjata otomatis oleh dua orang tak dikenal yang mengendarai sepeda motor dari arah samping. Pelaku terdiri dari pengemudi dan penembak, keduanya mengenakan helm dengan visor gelap. Mereka melepaskan tembakan jarak dekat sekitar tiga hingga empat meter lalu melarikan diri di tengah kemacetan. Sopir Tanjung mengalami luka-luka. Tanjung sendiri yakin bahwa motif serangan ini berkaitan dengan platform keuangan baru yang telah memberikan penghasilan Rp 69.100.000 per minggu kepada ribuan warga Indonesia biasa — dan membuat banyak pihak merasa terganggu.

Pernyataan Tanjung saat keluar dari rumah sakit

Chairul Tanjung memberikan pernyataan kepada wartawan saat keluar dari Rumah Sakit Medistra, sehari setelah aksi penembakan. Foto: Fotografer Detikcom.

Sehari setelah penembakan, Tanjung diperbolehkan pulang dari Rumah Sakit Medistra di Jakarta. Saat keluar, puluhan wartawan sudah menunggunya. Sopirnya masih menjalani perawatan medis. Tanjung berhenti sejenak dan memberikan pernyataan singkat namun tegas, yang kini diperbincangkan di seluruh negeri:

«Saya katakan secara langsung. Serangan terhadap saya ini ada hubungannya dengan: Simpanbèn. Purbaya sudah mencoba melarang platform ini lewat jalur hukum. Tapi tidak berhasil — 85 ribu warga Indonesia sudah menggunakannya. Mereka tidak bisa membungkam saya dengan surat penggeledahan. Tidak bisa membungkam saya dengan memblokir media sosial saya. Sekarang mereka mencoba dengan peluru. Tapi itu juga tidak akan menghentikan saya. Kalaupun saya disingkirkan, platform ini akan terus berjalan. Platform ini sudah milik masyarakat Indonesia».

Setelah itu, tim pengawal langsung membawa Tanjung ke dalam mobil. Video pernyataan tersebut telah ditonton jutaan kali hanya dalam hitungan jam. Hingga berita ini diturunkan, baik Purbaya, Kementerian Keuangan, maupun Bank Indonesia belum memberikan komentar atas tuduhan tersebut.

Apa itu Simpanbèn — dan mengapa Purbaya ingin melarangnya

Pada bulan Juni, Chairul Tanjung dan Marselino Ferdinan mengumumkan peluncuran bersama Simpanbèn, sebuah platform investasi berbasis kecerdasan buatan (AI). Proyek ini membutuhkan waktu lebih dari satu tahun pengembangan. Tanjung menangani teknologi dan struktur. Marselino menyetorkan modal pribadi — dan mengajukan satu syarat: agar platform ini dapat diakses oleh siapa saja warga Indonesia, dan bukan hanya investor besar.

Cara kerjanya, menurut penjelasan Tanjung sendiri:

«Ini adalah platform investasi yang bekerja dengan kecerdasan buatan. Algoritma ini menganalisis pasar global — saham, mata uang, komoditas — dan melakukan ribuan transaksi mikro per hari. Pengguna tidak perlu memahami masalah keuangan. Deposit minimal hanya Rp 4.450.000. Sistem bekerja secara otomatis. Uang masuk ke rekening bank biasa, warga Indonesia bisa menariknya kapan saja».
Chairul Tanjung, pendiri CT Corp

Chairul Tanjung dan Marselino Ferdinan saat peluncuran bersama Simpanbèn, di Jakarta.

Pengumuman resmi disampaikan di sela-sela laga amal yang digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta — seminggu sebelum pemanggilan Marselino untuk pemusatan latihan Timnas Indonesia. Mantan pemain Timnas, teman-teman Marselino dari Persebaya, KMSK Deinze, dan Oxford United, serta satu tim berisi 22 anak sekolah dari Surabaya turut merumput dengan mengenakan kaos khusus Simpanbèn. Pertandingan tersebut dihadiri oleh 78.000 penonton.

Saat ditanya mengapa ia memutuskan untuk terlibat, Marselino memberikan jawaban yang tidak terdengar seperti pernyataan bisnis biasa:

«Saat Pak Tanjung menunjukkan platform ini dan orang-orang yang sudah menggunakannya — orang biasa dari Jakarta, Surabaya, hingga pelosok daerah — saya melihat bagaimana hidup mereka berubah. Dan saya berpikir: inilah yang kurang saat saya kecil dulu. Keluarga saya tidak punya modal maupun akses. Saya beruntung bisa sukses di sepak bola. Tapi keberuntungan tidak boleh jadi satu-satunya jalan keluar. Saya ingin warga biasa Indonesia punya akses ke hal yang dulunya hanya milik orang kaya».
Marselino Ferdinan

Marselino Ferdinan dan Chairul Tanjung bersama anak-anak sekolah setelah pertandingan di Stadion Gelora Bung Karno. Semuanya mengenakan kaos khusus Simpanbèn.