NIAS UTARA — Persoalan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tetehosi Maziaya, di Kabupaten Nias Utara, semakin memanas. Pasalnya, pasca kegiatannya dihentikan sementara, pemilik kandang ternak babi yang berdampingan dengan SPPG tersebut diteror.
Kepada wartawan, Nando Zega menceritakan bahwa dirinya bersama sang adik menerima pesan bernada intimidasi melalui sebuah akun Facebook yang identitas pemiliknya belum diketahui, Kamis (27/08/2026) malam lalu.

“Kami mulai mendapat teror melalui pesan di media sosial Facebook ‘Selamat ya bro, udah berhasil menutup mata pencarian +50 orang lebih’. Saya tidak kenal dengan pemilik akun tersebut,” ungkap Nando, Minggu (30/08/2026) malam.

Masih kata Nando, dalam pesan lainnya, akun tersebut juga menuliskan kalimat yang ditujukan kepada orang tuanya, disertai kata-kata yang merendahkan.
“Permainan belum selesai bro tetapi ini baru saja dimulai.”
Pesan tersebut membuat pihak keluarga merasa tertekan dan mempertanyakan maksud serta identitas orang di balik akun tersebut.
Pihak keluarga menyatakan tidak ingin berspekulasi mengenai siapa pemilik akun tersebut. Mereka memilih menyimpan seluruh bukti komunikasi dan menyerahkannya kepada pihak yang berwenang apabila diperlukan untuk proses penyelidikan.
“Kami tidak ingin menuduh siapa pun. Kami hanya ingin tahu siapa sebenarnya yang mengirim pesan tersebut dan apa maksudnya. Kalau ada pihak yang merasa keberatan dengan persoalan MBG ini, silakan menyampaikan keberatan melalui jalur yang resmi,” tegasnya.
Mereka juga menegaskan bahwa penghentian sementara operasional MBG bukanlah merupakan bagian dari proses dan kewenangan pihak yang terkait. Pihaknya mempertanyakan alasan munculnya pesan yang seolah-olah menyalahkan keluarganya atas terganggunya mata pencaharian puluhan orang seperti yang disampaikan.
Terlebih, kalimat “permainan belum selesai, tetapi ini baru saja dimulai” dinilai menimbulkan kekhawatiran karena disampaikan setelah adanya persoalan dan penghentian sementara operasional dapur SPPG Tetehosi Maziaya.
Tidak hanya itu, Nando juga mengaku mendapatkan reaksi teriakan dengan melontarkan kalimat yang tidak pantas dari sekitar rumah.
“Dua hari yang lalu saat kami sedang memberikan makan hewan ternak kami, ada yang teriak-teriak memaki kami bang. Tetapi, kami tidak hiraukan,” paparnya.
Pihak keluarga berharap aparat penegakan hukum (APH) dapat membantu menelusuri identitas pemilik akun peneror pihaknya tersebut, sehingga dapat diketahui apakah pesan tersebut hanya merupakan bentuk emosi atau terdapat maksud lain di baliknya.
“Kami tidak mencari konflik. Kami hanya ingin persoalan yang ada diselesaikan secara terbuka dan sesuai hukum. Kalau kami salah, silakan buktikan melalui jalur hukum. Tetapi jangan meneror atau mengintimidasi keluarga kami melalui akun anonim,” tegasnya.(Red*)
Komentar