Demo di Mabes Polri, BEM UI Desak Pencopotan Kapolri Jenderal Listyo Sigit

Iklan Semua Halaman

Demo di Mabes Polri, BEM UI Desak Pencopotan Kapolri Jenderal Listyo Sigit


Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa se-Universitas Indonesia (BEM UI) melayangkan kritik tajam tepat di peringatan HUT ke-80 Bhayangkara, Rabu (1/7/2026).

Dalam aksi simbolik bertajuk #MatinyaReformasiPolri di depan Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, mahasiswa menuntut pencopotan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan mengkritik keras kepemimpinan di tubuh Korps Bhayangkara.

Koordinator Bidang Sosial Politik BEM UI, Muhammad Hafidz Hernanda, memberikan perumpamaan pedas terkait kondisi Polri saat ini.

Ia menggunakan analogi ikan busuk untuk menggambarkan masalah yang terjadi dari tingkat pimpinan hingga bawahan.

"Karena kami merasa bahwa ketika ada yang kepalanya sudah busuk, berarti bawahnya akan pasti busuk," ujar Hafidz.

Hafidz menilai, kondisi Polri yang dianggap menjauh dari semangat reformasi tidak lepas dari peran puncaknya.

Ia menyoroti masa jabatan Kapolri yang dianggap sudah terlalu lama sehingga menimbulkan kesan "zona nyaman".

"Bayangkan saja, dia sudah lama sekali di jabatan tersebut. Apakah saat ini, saya rasa dia terlalu nyaman gitu," tegasnya.

Ia juga mengkritik pengesahan Undang Undang Polri terbaru yang memuat poin perpanjangan masa pensiun.

Menurutnya, hal tersebut justru menghambat proses pembenahan institusi.

"Dan bahkan kalau kita lihat dalam Undang-Undang Polri terbaru, itu memperpanjang masa pensiun untuk ya, Listyo Sigit itu sendiri," tambahnya.

Kritik BEM UI bukan tanpa alasan. Hafidz mengungkit kembali kasus-kasus kekerasan yang melibatkan aparat, salah satunya kematian remaja bernama Afrianto Tawakall yang menurutnya menjadi bukti kegagalan Polri dalam mengayomi rakyat.

"Dia hanya remaja, 14 tahun. Dia dibunuh di atas trotoar yang kita bayar, kita bayar! Dia dibunuh oleh institusi polisi yang seharusnya mengayomi dan melindungi kita," teriak Hafidz dengan nada emosional.

Ia menegaskan aksi membawa keranda mayat dan karangan bunga duka cita ini adalah representasi dari kekecewaan rakyat. Sumber Tribun